Harga Minyak Dunia Turun, Pendapatan EMCL Dan DBH Migas Bojonegoro Terancam Turun.

BOJONEGORO – Dunia perminyakan hari ini selasa (10/03/2020) dibikin heboh, penyebabnya harga miyak dunia yang sejak kemarin Senin (09-03-2020) mengalami penurunan drastis dari yang semula 55 USD/barel menjadi hanya 30 USD/barel.

Dampak yang diterima akibat penurunan harga minyak mentah ini adalah pendapatan negara akan berkurang, dan pastinya akan dialami oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Exxon Mobil Cepu Limted yang menjadi oprator Sumur Banyuurip Blok Cepu. Hal ini secara langsung juga berdampak pada Dana Bagi Hasil Migas Kabupaten Bojonegoro yang akan berkurang secara drastis.

“Secara logika, karena acuan harga Indonesian Crude Price (ICP) mengacu ke harga minyak international tersebut yang merupakan acuan pasar dunia, sudah otomatis hal ini akan menurunkan pendapatan negara maupun dari sisi kontraktor” ungkap Dony Aryantho, Kepala Humas SKK Migas Jabanusa saat dimintai keterangan oleh wartaku.id.

Masih menurut Dony Aryantho, “dengan turunnya harga minyak dunia ini bisa jadi juga sebuah peluang bagi kontraktor migas untuk melakukan kegiatan explorasi dengan harapan ada penemuan-penemuan besar dan baru lagi”, punkasnya.

Sebagaimana yang diketahui, saat ini sumur Banyuurip Blok Cepu yang di operatori oleh Exxon Mobil Cepu Limited memproduksi sekitar 220 rb/BPOD dan menjadi menyumbang terbesar lifting minyak mentah Nasional, dimana 25% lebih lifting minyak berasal dari sumur banyuurip Blok Cepu ini.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Arab Saudi menyatakan perang minyak dengan Rusia. Ini terjadi pasca-Rusia menolak ajakan OPEC untuk memangkas produksi 1,5 juta barel per hari (bph) guna membendung efek corona. Harga minyak yang anjlok ini sebagai efek dari pengumuman negara-negara OPEC+ pada Jumat lalu, yang mengatakan akan menghentikan pemangkasan produksi mulai akhir Maret.

See also ExxonMobil Cepu Limited Raih 4 Penghargaan dari Kemendes RI

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) merosot hampir 25% menjadi US$ 31,13 per barel pada Senin kemarin (09-03-2020) di Bursa NYMEX, setelah sebelumnya anjlok 33% menjadi US$ 27,34, level terendah sejak 12 Februari 2016.

Dikonfirmasi terpisah , juru bicara EMCL Rexy Mawardijaya masih belum memberikan jawaban. Hingga berita ini diturunkan, Pesan pendek yang dikirimkan oleh wartwan wartaku.id cuma dibaca saja dan tidak memberi balasan. (HM/Red)

Comment