24 Tahun Mengabdi, Sutresno Guru Asal Kadewan Hanya Menerima Honor 116.000 Ribu Per Bulan.

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Pada peringatan hari guru yang ke-76 nyatanya masih banyak tenaga pendidik yang belum sejahtera hidupnya, terutama bagi yang masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) atau honorer. Sementara peran mereka sangat penting dalam mencetak generasi bangsa.

Salah satunya kisah dari Sutrisno, Guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kadewan, Kabupaten Bojonegoro. Mengabdi sejak tahun 1997 hingga sekarang honor yang di dapatkan hanya 14.500 per jam.

“Saya sekarang cuma ngajar 8 jam dengan honor 14.500/ jam, karena di sekolah ada tambahan PNS 4 orang jadi saya tidak dapat jam,” ungkapnya.

Pria 46 tahun tersebut juga mengungkapkan, selain mengajar, Ia juga menjadi penjaga sekolah di setiap malam dengan gaji Rp 400.000 per bulanya. Tentu di tahun 2021 dimana komoditas semakin naik, sudah pasti penghasilanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

“Untuk menutup kebutuhan ekonom, saya juga menjadi driver freeline, selain itu untuk belanja dapur saya ternak ayam kampung di rumah skala kecil,” jelasnya.

Dengan keadaan ekonominya yang terbatas, Ia sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, karena masih mau membantu tenaga pendidik honorer dengan memberikan tunjangan sebesar Rp 1.400.000 per bulan.

“Alhamdulillah Pemkab memberi tunjangan 1.400.000/bln meskipun 2 bulan sekali cair,” Syukurnya.

Hidupnya semakin miris, karena pada recruitment yang dibuka pemerintah untuk mengangkat guru honorer sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) kali ini Ia tidak bisa mendaftar, disebabkan formasi mata pelajaran yang diampu tidak ada, sementara usianya semakin bertambah.

“Akhir-akhir ini ngenes dan menangis dalam hati, karena ada pendaftaran ASN PPPK saya tidak bisa ikut daftar, karena formasi untuk mapel Bhs. Inggris zonk,” tuturnya.

Ayah dari satu orang anak perempuan tersebut juga merasa sedih, di usianya yang seharusnya sudah memikirkan masa depan anak, akan tetapi Sutrisno masih harus memikirkan nasibnya sendiri. Namun, Ia tetap bangga menjadi guru karena bisa mengamalkan ilmunya dan semua dilakukan demi masa depan anak bangsa dan tanggung jawab keluarga.

“Saya bangga jadi guru setiap hari bisa mengamalkan ilmu yang saya punya, bahkan suatu hari alumni masuk TNI sedang pendidikan di DIKCATA Magetan, kebetulan saya di carter keluarganya untuk mengantar sambang ke sana, stelah bertemu orang tunya dia lihat saya ada di situ, akirnya anak itu lari ngejar saya dan pegang tangan saya di cium sambil berkata “terima kasih pak Tris ini semua karena jasa guru” nangis saya saat itu terharu, dan bangga, meski GTT bisa ikut andil kesuksesan anak bangsa,” ungkapnya sambil berlinang.

Sutrisno juga berpesan untuk guru seperjuangan terutama eks K2, agar tetap semangat mengajar, mendidik, dan menjiwai profesi guru, karena guru tempat anak bangsa mencari inspirasi, tanpa guru negara kita tidak akan berkembang. Selain itu, Ia juga berharap semoga kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi pemangku jabatan untuk lebih memperhatikan pejuang pendidik.

“Mohon dengan hormat kepada beliau yang terhormat pemangku jabatan, GTT menangis dengan masa abdi 25 tahun belum mendapat pengakuan dari pemerintah,” Tandasnya. (Mil/Red)

Comment