BOJONEGORO, Wartaku.Id – Menurut data yang tercatat pada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro tercatat bahwa banyaknya pelaku kasus kekerasan seksual pada perempuan maupun anak didominasi oleh orang terdekat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Amiroh, Kasi Perlindungan hak perempuan dan perlindungan hak anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro yang berpesan untuk lebih waspada dengan lingkungan sekitar disebabkan kekerasan dapat terjadi bukan hanya karena ada niat namun juga karena adanya kesempatan.
“Bukan curiga tapi lebih waspada dengan orang sekitar, karena dari banyaknya peristiwa, pelaku merupakan tetangga sekitar rumah, ustadnya, kerabat bahkan orang yang dianggap tidak mungkin melakukan kekerasan,” jelasnya.
Kekerasan dibagi menjadi dua, yaitu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan dalam rumah tangga atau dilakukan oleh orang dalam satu rumah/orang dekat baik keluarga maupun suami dan kekerasan non rumah tangga (Non KDRT). Menurutnya banyaknya kasus kekerasan tersebut diakibatkan oleh latar belakang pendidikan maupun ekonomi, terlebih di dua tahun terakhir terjadi krisis ekonomi disebabkan adanya pandemi Covid-19.
“Selain itu karena kurang iman juga bisa dan saat ini juga banyak tayangan terkait pergaulan bebas yang dengan mudah beredar di sosial media, terlebih remaja yang sedang mencari jati diri dan punya sifat imitasi atau meniru apa yang dilihat sehingga memicu adanya pergaulan bebas yang berdampak kekerasan,” tuturnya.
Menurut data yang tercatat, mengungkapkan per tanggal 14 Desember 2021 total kekerasan seksual ada sebanyak 20 kasus. Dari jumlah tersebut kasus terbanyak dialami oleh anak, yaitu dengan jumlah 14 kasus berupa persetubuhan, 3 kasus pencabulan dan satu kasus pemerkosaan.
Total kasus kekerasan yang dibagi menjadi tiga jenis yaitu kekerasa fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual tahun ini sebanyak 70 kasus per 31 oktober 2021. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 61 kasus kekerasan.
“Bahkan jumlah tersebut masih bisa meningkat karena bulan November dan Desember belum termasuk hitungan,” ungkap Amiroh.
Sedangkan Kepala Dinas DP3AKB, Ninik Susmiati mengungkapkan dengan adanya pendampingan melalui satgas PPA yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Bojonegoro sehingga banyak korban kekerasan yang akhirnya terlaporkan.
“Karena selama ini banyak tindak kekerasan yang disembunyikan,” terangnya.
Untuk meminimalisir kejadian kekerasan seksual, pihaknya telah melakukan pencegahan melalui program generasi berencana (GenRe) dengan mendatangi sekolah dan pondok pesantren.
“Dengan paham menjadi generasi berencana perempuan-perempuan akan semakin berdaya dan tidak mudah kena bujuk rayu,” tuturnya.
Selain itu, DP3AKB juga sudah melakukan pendampingn terhadap korban kekerasan dan mediasi serta memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada keluarga serta masyarakat. (Mil/Red)


Comment