Pengrajin Turban Turki Di Indonesia, Berasal Dari Bojonegoro.

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Tarian sufi dengan pakaian terusan dan topi tinggi dengan gerakan berputar-putar ini memiliki penuh makna karena bagian dari meditasi diri. Tarian dari Turki yang dikenal dengan sebutan whirling dervishes.

Topi panjang yang dikenakan penari sufi ini disebut sikke, dan di Kabupaten Bojonegoro ada salah satu pengrajin sikke atau turban asal Turki.

Muhammad Zuhri (52) atau lebih dikenal dengan sebutan Kang Juari, asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Merupakan salah satu pengrajin sikke atau turban khas Turki satu-satunya di Bojonegoro.

Juari mengaku telah menggeluti profesi sebagai pengrajin sikke sejak tahun 2018, berawal dari ketidaksengajaan Juari saat bertemu Mubaligh asal Semarang yakni, Budi Harjono yang mengeluhkan bahwa turban miliknya atas pemberian seorang ulama dari Turki, telah rusak dan meminta Juari untuk membantu memperbaikinya.

Dari situlah, Juari mulai berinovasi mencoba membuat sikke dan turban sendiri dengan kemampuan otodidak yang dimilikinya. Dengan mencoba berbagai pola dan bahan berulang-ulang.

“Setelah melakukan berbagai percobaan mulai dari bentuk dan bahan, akhirnya saya menemukan pola dan bahan yang pas untuk membuat turban. Hasil karya pertama saya dibeli oleh kyai Budi,” ungkap Kang Juari.

Setelah berhasil memperbaiki turban milik Kyai Budi, dan digunakan berdakwah mengelilingi Indonesia. Sikke dan turban buatan Juari makin dikenali para masyarakat, dan mulai banyak yang memesan.

Pada umumnya sikke atau turban yang dipakai para pendakwah berwarna hijau, tak jarang ada pula yang memesan khusus warna putih untuk prosesi ijab kabul.

“Berkat digunakan oleh Kyai asal Semarang akhirnya sikke atau turban buatan saya makin dikenal, umumnya pendakwah memesan sikke warna hijau. Namun ada pula, khusus putih untuk ijab kabul para habaib,” ucap Pria asal Sukorejo.

Dalam sehari Juari mampu memproduksi sikke atau turban hingga 5 buah dan dikerjakan sendiri. Mulai dari pemotongan bahan, ngemal, memasangkan lem hingga membentuk sikke. Untuk satu buah sikke yang ia produksi dihargai sebesar Rp 150.000 per biji, sedangkan turban ia jual seharga Rp 300.000.

“Karena proses pembuatan yang cukup rumit, sehari kami bisa produksi 5 buah sikke atau turban. Untuk harganya bervariasi mulai dari Rp 150.000,” imbuhnya.

Selain dikenal sebagai pengrajin sikke atau turban di Bojonegoro, Juari juga memiliki group tari sufi yang anggotanya mencapai 5.000 dan tersebar di wilayah Bojonegoro.

“Alhamdulillah selain sebagai pengrajin sikke, saat ini sudah memiliki group tari sufi di Bojonegoro, anggotanya mencapai 5.000,” pungkasnya. (Ayu/Red)

Comment