BOJONEGORO, Wartaku.Id – Munculnya virus Covid-19 dengan cepat menyebar keseluruh penjuru bumi, mengakibatkan diterapkanya lock down. Hal tersebut sangat berdampak pada Hafidz yang bekerja sebagai travel perjalanan luar negeri, dengan ditutupnya penerbangan, akhirnya Ia memilih untuk bertani pisang Chavendish di desa Pilanggede, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.
Hafidz pemilik Istana Banana mengaku sebelumnya tidak pernah menjadi petani, namun akibat adanya lock down Ia terpaksa memilih bertani untuk tetap memiliki pemasukan.
“Bukan petani sebelumnya, karena adanya lock down akhirnya saya mencoba membeli bibit pisang Chavendish,” ungkapnya.
Memilih bibit sendiri dengan mendatangi pembibitan pisang Chavendish, Ia membeli sebanyak 4.000 pohon dengan harga Rp. 20 ribu per pohonya, yang ditanam di tanah persawahan seluas satu hektar dengan jarak satu meter per pohon.
“Dulu banyak yang bilang pisang kok ditanam di sawah sayang tanahnya dan sebagainya. Sampai akhirnya sekarang sudah tau hasilnya,” jelasnya.
Hafidz mengaku untuk keuntungan sendiri berkali lipat dibandingkan panen padi, selain buahnya dapat dimakan maupun dibuat berbagai macam olahan, semua unsur tumbuhan pisang Chavendish bisa digunakan. Diantaranya daunya yang dapat dijual, gedebog pisang juga dapat digunakan untuk bahan tali tampar, bahkan kulit pisang juga dapat digunakan sebagai masker wajah untuk memperhalus kulit.
“Penjualan tidak hanya dari buahnya saja tapi juga bisa batangnya atau gedebognya, daun pisang dan juga anakan pisang yang tumbuh dari dangkal pisang itu saya budidayakan untuk dijual,” tuturnya.
Untuk pemasaran buah pisang Chavendish sendiri, Hafidz sudah memiliki konsumen. Selain itu, Ia juga menjualnya di indomart. Sementara harga buah pisang per kilonya berkisar Rp 16 ribu, sehingga dari satu tundun pisang/hasil buah dari satu pohon bisa menghasilkan kurang lebih Rp 300 hingga Rp 400 ribu sedangkan panennya sendiri bisa setiap hari.
“Dari awal pembibitan sampai matang sekitar 8 bulan, sementara untuk menghasilkan warna kuning ini perlu timbun sekitar satu minggu di dalam ruangan yang suhunya mencapai 16 ° C,” ungkapnya.
Sedangkan untuk penjualan bibit pisang dihargai Rp 10 ribu per pohon dan sudah melakukan pengiriman ke berbagai daerah, bahkan Hafidz mengaku kualahan dengan banyaknya pesanan.
“Kalau untuk bibitnya saja selama 8 bulan ini penghasilan bisa mencapai Rp 80 juta hingga Rp 100 juta,” tuturnya.
Menurutnya banyak masyarkat yang akhirnya tertarik untuk membudidayakan pisang Chavendish, selain banyak manfaat untuk program diet juga untuk program kecantikan, alasan lain adalah karena perawatanya yang terbilang mudah.
Pembibitan sendiri dapat dilakukan dengan menata dangkal pisang dari pohon yang sudah berbuah diatas sekam kemudian ditutup lagi dengan sekam, setelah itu tunas akan muncul dan dipindahkan ke poli bag untuk keperluan dijual. Perawatanya sendiri cukup mudah dengan memberikan pupuk kandang berupa kotoran kambing. (Mil/Red)



Comment