Debit Air Menurun Di Musim Kemarau, Bengawan Solo Rawan Tercemar.

BOJONEGORO, Wartaku.id – Menurunya debit air Sungai Bengawan Solo di musim kemarau menyebabkan pencemaran air rawan terjadi. Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) beberapa waktu lalu kandungan amonia di bengawan solo tinggi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melalui pengendali dampak lingkungan, Tuti Pragmiatun menuturkan bahwa beberapa waktu terakhir kandungan Zat amonia di bengawan solo tinggi, yaitu zat yang dihasilkan dari kotoran hewan seperti sapi, manusia dan juga limbah.

“Terakhir sekitar minggu lalu memang kandungan zat amonia tinggi, namun ini masih aman belum ada tanda-tanda pencemaran berat,” ungkapnya.

Debit Air Menurun Di Musim Kemarau Bengawan Solo Rawan Tercemar 1

Tuti menjelaskan bahwa pencemaran ada tingkatanya mulai dari rendah, sedang dan tinggi. Sementara Bengawan Solo merupakan sungai kelas 2, yaitu air bisa digunakan untuk mengairi tanaman, memberi minum ternak, dan mencuci atau mandi.

“Salah satu ciri fisik bahwa air itu tercemar yaitu berubahnya warna dan bau, serta kandungan PH atau keasaman yang tinggi dan timbulnya tumbuhan enceng gondok,” ujarnya.

Sementara, kandungan amonia bisa berasal dari limbah sampah masyarakat yang di buang ke sungai. Sehingga disebabkan debit air yang surut menyebabkan kandungan amonia meningkat.

“Kalau kotoran hewan itu masih organik artinya masih bisa terurai, namun akan sanngat mengganggu jika skalanya banyak karena air Bengawan Solo juga di ambil oleh PDAM sebagai air baku,” ungkapnya.

Permasalahan yang dihadapi menurutnya masih terkait pembuangan sampah ke sungai, sehingga menyebabkan laut tercermar terlebih sampah diapers yang akan sulit terurai hingga puluhan tahun. Untuk itu, Tuti menjelaskan perlunya regulasi pihak-pihak terkait untuk mengatasi permaslahan tersebut, salah satunya dari pemerintah desa (Pemdes) agar berinisiatif membuat pengolahan sampah di desanya.

“Terutama Pemdes yang ADD nya tinggi bisa disisihkan sekian persen untuk bisa bikin pengelolaan sampah kecil-kecilan, ya mungkin yang plastik bisa kerja sama dengan pemulung.,” ujarnya.

Sementara itu, dimusim kemarau kali ini Ia juga menghimbau bagi masyarakat apabila menemui air Bengawan Solo yang berbau dan berubah warna agar tidak dikonsumsi maupun digunakan memasak dan kebutuhan sehari-hari. (Mil/Red)

Comment