Puncak Kemarau Basah Diprediksi Terjadi di Bulan September Hingga November 2021.

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Menurut prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun ini Indonesia diperkirakan akan hadapi kemarau basah. Berbeda dengan kemarau kering, di masa kemarau basah masih ada potensi hujan yang terjadi. Seperti sudah menjadi rutinan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro tetap melakukan persiapkan dengan mendistribusikan air bersih kepada desa-desa yang terdampak bencana kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Ardhian Orianto mengungkapkan saat ini sudah memasuki musim kemarau namun tahun ini akan terjadi kemarau basah dan diperkirakan puncaknya akan terjadi sekitar bulan September hingga November mendatang.

“Tahun ini beda dari sebelumnya, kali ini diperkirakan kemarau basah. Kemarau basah itu musim kemarau tapi masih ada hujan dengan intensitas rendah, “ungkapnya.

Meskipun begitu pihaknya tetap akan mendistribusikan air bersih kepada daerah yang membutuhkan, yang diketahui dengan pengajuan maupun laporan kepada pihak BPBD. Sementara sampai saat ini pengajuan permintaan air bersih yang masuk baru dari kecamatan Tambakrejo.

“Daerah yang kekeringan biasanya mengajukan sebelum kita droping air kemudian kita konfirmasi dulu ke perangkat desa atau kecamatan, apa benar daerah tersebut membutuhkan dan ada berapa banyak KK, jika sudah kita akan mulai menjadwalkan droping air bersih, “jelasnya.

Untuk mengantisipasi bencana kekeringan, Ardhian menghimbau kepada masyarakat agar menghemat air bersih dan mengoptimalkan penggunaan air bersih.

Sedangkan, Agus Purnomo selaku Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD, menjelaskan bahwa bila mengacu pada tahun 2020 lalu ada sekitar 16 daerah yang rawan kekeringan di antaranya Sumberjo, Ngasem, Bubulan, Tambakrejo, Sukosewu, Ngraho, Kasiman, Dander, Purwosari, Temayang, Kedungadem, Ngambon, Sugihwaras, Kedewan, Trucuk dan Malo.

“Kekeringan bukan hal baru, karena terjadi hampir setiap tahunya. Dan beberapa daerah menjadi langganan bencana kekeringan, “jelasnya. (Mil/Red)

Comment