Tolak Balak, Tradisi Turun Temurun Masyarakat Jawa.

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Masyarakat Jawa terkenal dengan adat dan tradisinya yang kental, seperti halnya tradisi menolak musibah atau lebih sering dikenal dengan sebutan tolak bala. Beberapa waktu terakhir masyarakat jawa dibeberapa daerah seperti Bojonegoro melakukan tradisi tolak bala untuk menolak pandemi covid-19 agar segera usai.

Salah satu warga asal Solorejo, Kecamatan Baureno, menyebutkan setiap rumah diharuskan membuat sepiring bubur. Yang menjadi ciri khas bubur tolak bala adalah bahan yang digunakan berbeda dengan bubur yang dijual pada umumnya. Bubur tolak bala berbahan dasar tepung beras. Sama halnya dengan membuat bubur sum-sum, namun tanpa diberi garam, santan, atau campuran bumbu lainnya.

“Dilakukanya per Rt atau per desa, “ungkap Mbah Sarni.

Kemudian untuk penyajiannya, bubur tesebut diletakkan pada piring yang telah diberi daun pisang di atasnya. Kemudian di atas bubur tolak bala ditaburi bubuk kopi hitam yang dibentuk silang. Hal ini diartikan masyarakat menolak bala atau musibah.

Selanjutnya pada malam hari setelah sholat magrib atau isya, masayarakat akan berkumpul di jalan pertigaan atau perempatan yang ada di desanya, dengan membawa bubur yang telah dibuat. Mereka juga ada yang membawa nasi beserta lauk pauk atau disebut nasi ambeng.

“Warga yang sudah berkumpul akan membaca yasin dan tahlil bersama-sama, tak lupa juga doa tolak bala sebagai tujuan utama, rangkaian ini disebut dengan istighosah tolak bala,”jelasnya.

Selanjutnya pemimpin membacakan doa penutup, setiap individu bisa meminta apapun yang di inginkan dengan mengadahkan tangan kepada Allah SWT. Prosesi terakhir yaitu dengan membuang sepiring bubur yang telah dibawa dengan makna membuang bala atau musibah. Setelah itu mereka akan menyantap nasi ambeng bersama-sama.

Dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19, terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaan yaitu dengan membatasi orang yang ikut sehingga tradisi yang seharusnya dilakukan ramai dan banyak orang harus dibatasi dengan perwakilan satu rumah satu orang untuk mengikuti tradisi tersebut.

“Karena dilaksanakan ditengah pandemi sehingga warga sini melakukan di halaman mushola dan membatasi orang yang ikut, “terang puguh asal desa parengan Tuban. (Mil/Red)

Comment