Menuju Kemandirian Desa Tanpa Bergantung Dana Transfer.

Oleh : Kustaji *)

BOJONEGORO – Kemandirian Desa adalah tujuan semua, pemerintah dan masyarakat terus berlomba untuk menciptakan desa kuat maju mandiri dan berkeadilan.

Sejak munculnya Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah telah mentransfer sekitar 275 Triliun dana kepada 74.000 lebih desa selama 5 tahun terakhir.

Tak terkecuali di Kabupaten Bojonegoro yang mempunyai lebih dari 400 desa ini, tahun ini saja telah menerima lebih dari 367 milyard transfer dari pemerintah pusat atas nama Dana Desa.

Tapi tahukah kita bahwa perjalanan lima tahun dana transfer ke desa di Kabupaten Bojonegoro ini tak sepenuhnya berjalan sesuai asa pemerintah. Berbagai kasus yang melibatkan Kuasa Pengguna Anggaran, dalam hal ini Kepala Desa terus terjadi dan seakan menjadi momok bagi kita semua bahwa ini masih akan terus terjadi.

Melihat kondisi ini penulis membayangkan jika suatu saat nanti dana transfer itu tak lagi ada, apakah desa tetap mampu untuk maju dan mandiri? Apakah korupsi masih akan terjadi? Lantas bagaimana caranya untuk menuju mandiri tanpa bergantung dana transfer?

Kemajuan dan kemandirian desa sejatinya tak selamanya harus bergantung dari dana transfer ke desa baik dari APBN maupun APBD.

Kemandirian desa harus diawali dari kemampuan desa itu sendiri dalam menggali potensi wilayahnya. Potensi desa itu sendiri beraneka ragam baik dalam sumberdaya alam, keuangan, sosial, maupun sumber daya manusia, bahkan sumber daya infrastruktur yang telah ada, bagaimana ini bisa tergali oleh desa tanpa satupun tercecer.

Selanjutnya desa juga harus punya kemampuan lebih dalam menggali dan memetakan semua masalah yang dimiliki dalam semua bidang kewenangannya. Ini harus dilakukan dengan sangat cermat berbasis data riil hingga menyasar kelompok terkecil masyarakat yakni keluarga.

Dengan power empowerment, desa seharusnya mampu dalam mengoptimalkan segala potensi yang ada untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Nah, disini yang sepertinya masih begitu berat dialami mayoritas desa, alasannya ketika potensi sudah tergali, tanpa kesediaan dana yang cukup mereka sepertinya enggan bahkan berat untuk mampu menggarap potensi yang ada pada dirinya.

Disini penulis akan mencoba memberikan sedikit gambaran solusi problematika ini, apa saja yang harus dilakukan desa untuk dapat menepis anggapan berat tadi.

Pertama, menggarap potensi desa tanpa dana harus diawali oleh jiwa-jiwa berdaya masyarakat desa yang tentu telah dipetakan sebelumnya dalam penggalian potensi sumber daya manusia. Kekuatan mengorganisir masyarakat oleh jiwa-jiwa berdaya menjadi kunci keberhasilan desa, karena jiwa ini jauh dari pamrih. Mereka sungguh ingin memajukan desanya dengan segala daya kekuatannya sendiri.

Kedua, potensi desa yang akan digarap harus menjadi satu kesatuan dalam sebuah usaha milik desa. Ini artinya Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) menjadi satu lembaga wajib yang harus ada disemua desa, karena satu-satunya lembaga milik desa yang bisa digunakan untuk memproduksi pundi-pundi keuangan bagi desa namun tetap dengan semangat usaha bersama masyarakat. Optimalisasi modal sosial, sumberdaya alam dan infrastruktur tentu akan menghasilkan keuntungan riil pergerakan bagi BUMDesa.

Ketiga, budaya desa menjadi kekuatan dalam optimalisasi potensi. Dengan budaya yang dimiliki masyarakat desa akan mudah dipertemukan dan diorganisir, karena desa adalah lokus budaya, mereka akan terus merasa handarbeni apa yang menjadi kebiasaan dan adat mereka yang tentu masih hidup disemua desa, tentu dengan goal kesejahteraan warga desa.

Jika semua desa mampu menghadirkan dan menghidupkan ketiganya, jiwa berdaya, BUMDesa dan budaya desa, penulis yakin masalah yang dihadapi desa akan mampu terselesaikan dengan sendirinya, meski harus terus dalam penyempurnaan dan perjalanan waktu.

Dan pada saatnya akan tiba, bayangan jika seandainya dana transfer ke desa itu tidak ada atau suatu saat dihentikan, desa akan tetap mampu untuk terus maju dan mandiri, selaras dengan tujuan banyak pihak tanpa menyisakan masalah seperti yang akhir-akhir ini semakin merajalela. Semoga…!!!

Teruslah Berdaya…
Desa Membangun Indonesia

*) Penulis adalah Eks Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif Kemendes PDTT

Comment