by

PLN ULP Bojonegoro Berikan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Yang Diakibat Konsleting Listrik.

-Peristiwa-149 views

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Banyaknya peristiwa kebakaran yang diakibatkan konsleting listrik, PLN ULP Bojonegoro memberikan sosialisasi terhadap masyarakat yang masih belum paham dengan kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

Menurut data yang tercatat dari pihak pemadam kebakaran Bojonegoro, konsleting listrik masih menjadi penyebab yang mendominasi peristiwa kebakaran. Sepanjang tahun 2021 dari total 108 peristiwa kebakaran, 35 kejadian diantaranya diakibatkan oleh konsleting arus pendek listrik dengan kerugian tertinggi mencapai Rp. 505 juta.

Sementara itu, manajer PLN ULP Bojonegoro Choirul Hidajat TriWidodo mengungkapkan konsleting listrik bisa terjadi disebabkan beberapa hal, diantaranya penggunaan peralatan listrik yang tidak sesuai standar. Salah satu contoh adalah penggunaan stop contact yang melebihi kapasitas.

“Satu colokan yang standarnya bisa di kasih maksimal 3 colokan, kadang masih ditambah kabel sambungan/olor dengan beberapa colokan lagi ini bahaya, “ungkapnya.

Selain itu, penggunaan peralatan elektronik dengan kabel yang kualitasnya rendah atau tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) bisa menyebabkan terjadinya konsleting arus pendek listrik dan ada juga masyarakat menggunakan listrik ilegal mengakibatkan arus listrik terlalu besar hingga tidak mampu menampung kapasitas kabel maupun peralatan listrik yang digunakan.

Lebih lanjut faktor penyebab yang lain diantaranya instalasi listrik yang tidak sesuai standar atau belum ber Sertifikat Layak Operasi. Mengganjal/bypass Miniature Circuit Breaker (MCB) yang sering turun (jeglek) karena tidak sesuai kapasitas beban.

Untuk menghindari bahaya listrik dan kebakaran akibat arus listrik yang masih sering terjadi, pihak PLN menjelaskan ada beberapa hal yang dapat menghindarkan masyarakat dari peristiwa serupa.

“Diantaranya hindari bermain layang-layang dekat dengan jaringan listrik karena benang yang tersangkut dapat mengalirkan listrik dan listrik padam, menghindari pembangunan dekat dengan jaringan listrik, hindari juga tusuk kontak yang bertumpuk, “jelasnya.

Tidak memasuki gardu maupun tempat bertanda peringatan tegangan listrik, menjauhkan antena TV/Parabola/papan reklame dari jaringan listrik, menghindari membakar sampah dibawah jaringan listrik, serta Pemeriksaan Instalasi Milik Pelanggan (IML) juga perlu pembaruan (untuk rumah baru 10 th selanjutnya setiap 5 tahun sekali).

“Selanjutnya kami juga mensosialisasikan kepada masyarakat umum dengan dibantu pihak BPBD dan Damkar agar masyarakat selalu memperhatikan penggunaan listrik sesuai standar yang ditetapkan agar tidak lalai dan menimbulkan bahaya, setiap konsumen wajib melaksanakan pengamanan terhadap bahaya listrik, menjaga keamanan instalasi listrik milik konsumen,memanfaatkan listrik sesuai peruntukannya sebagaimana Pasal 29 ayat (2) UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan “pungkasnya.” (Mil/Red)

Comment

Artikel