BOJONEGORO, Wartaku.Id – Kabupaten Bojonegoro terletak di geografis yang rawan bencana, terlebih bencana banjir yang sudah menjadi langganan di setiap musim penghujan datang.
Salah satu warga Desa Dander, Kecamatan Dander yang menjadi korban banjir bandang pada 27/12/2.21 lalu mengungkapkan bahwa setiap tahunya sudah menjadi langganan banjir saat musim penghujan datang. Namun, menurutnya dua tahun terakhir merupakan banjir terparah.
“Dua tahun terakhir ini banjir semakin parah,” ungkapnya.
Kali ini rumahnya mengalami kerusakan dibagian dinding yang terbuat dari kasibot akibat terjangan arus air, selain itu berbagai perabotan rumah dan alat elektronik juga mengalami kerusakan.
“Tv nya rusak kerendam, baju-baju semua terendam tidak sempat menyelamatkan karena air datang sangat cepat dan deras,” tuturnya.
Umi menjelaskan saat hujan turun, Ia sedang di rumah bersama anaknya, kemudian ketika air datang Umi segera menyelamatkan anaknya ke tetangganya yang rumahnya lebih tinggi. Sementara Ia tetap di rumah dan mengamankan perabotan rumah.
“Karena rumah jebol, saya pegang almari tempat dokumen raport dan lainya milik anak saya karena takut terseret arus, sementara barang lain seperti baju yang di lemari bagian bawah tidak sempat saya amankan keatas,” ungkapnya.
Banjir kali ini setinggi jendela rumahnya, dan menurut Ummi lebih parah dari tahun sebelumnya. Meskipun begitu, Ummi mengaku belum pernah mendapat bantuan apapun dari pihak manapun.
“Banjir ini dari hutan, akibat hutanya yang semakin gundul sehingga banjir semakin parah. Untuk bantuan meskipun saya sering jadi korban banjir namun belum pernah dapat sama sekali,” katanya.
Sementara itu, Mulyo yang merupakan ketua Rt. 28 mengungkapkan hal serupa, bahwa banjir kali ini semakin parah dan tinggi bahkan mencapai pinggang orang dewasa di dalam rumahnya.
“Sebelumnya tidak sampai sepinggang orang dewasa, namun untuk tahun ini rumah saya kemasukan hingga sepinggang orang dewasa,” jelasnya.
Mulyo juga berpendapat bahwa banjir ini merupakan kririman dari pegunungan hutan, terlebih hutan yang mulai berkurang pohonya, sehingga serapan untuk air kurang menyebabkan lebih sering terjadi banjir. (Mil/Red)


Comment