by

Guru Keluhkan Krisis Pendidikan Karakter Generasi Penerus.

BOJONEGORO, Wartaku.Id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan yang ke- 76, Indonesia dirasa krisis pendidikan karakter pada generasi penerus. Hal tersebut disebabkan karena kegiatan belajar mengajar di sekolah yang merupakan salah satu tempat pembentukan karakter diliburkan dan diganti dengan pembelajaran secara daring dirumah masing-masing.

Salah satu kepala sekolah swasta MINU Unggulan di Bojonegoro, Binti Fuadiyah juga mengeluhkan bahwa sejak pandemi Covid-19 dua tahun terakhir kegiatan belajar mengajar secara tatap muka yang berhenti dan diganti dengan pembelajaran secara daring ternyata sangat berdampak pada siswa, terutama pada karakter anak didik.

“Sangat berpengaruh sekali terutama pada karakter anak yang dulu sudah kita bentuk, namun karena pandemi belajar dirumah semua hilang, “tuturnya.

Tidak jarang, pihaknya menemui siswa yang berkata kasar bahkan jelek kepada temannya bahkan beberapa dari mereka juga berani melawan perintah dari guru. Sebagai pendidik kejadian tersebut membuatnya sangat terpukul, karena menurutnya kedisiplinan dan ketertiban yang sudah ditanamkan sejak masuk sekolah hilang begitu saja.

“Kalau sekolah tatap muka dulu anak bisa disiplin, berangkat pagi, sholat dhuha tanpa paksaan, karena pendidikan karakter ini perlu pembiasaan, “jelasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menerima keluhan banyak orang tua yang susah mengatur anak ketika dirumah, terlebih beberapa orang tua juga sibuk bekerja sehingga kurang pengawasan. Menurutnya mengembalikan karakter generasi penerus bukan hal yang mudah dilakukan, perlu usaha ekstra dari pendidik selain itu juga perlu kesabaran dan pembiasaan.

Sementara, salah satu guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Soko, kabupaten Tuban juga mengeluhkan beberapa siswa yang menyepelekan tugas yang diberikan. Bahkan dari beberapa tugas yang diberikan lebih sering tidak dikerjakan. Tidak hanya itu, sering ditemui siswa yang ketika diingatkan untuk mengumpulkan tugas melalui media online, membalas dengan kalimat yang tidak sepatutnya.

“Kita sudah berusaha mengingatkan dengan baik melalui Whatsapp, tapi terkadang mereka membalas dengan tidak sopan bahkan menguras kesabaran, “ungkap Fatmawati, guru bahasa Indonesia di SMPN 1 Soko.

Ia juga menyebutkan bahwa siswa saat ini berbeda jauh dari siswa yang ditemuinya dulu, terlebih kesopanan dan penghormatan pada guru yang semakin hilang.

Sedangkan Adi Prayitno selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bojonegoro – Tuban, menuturkan pada (masa pengenalan lingkungan sekolah) MPLS beberapa bulan lalu juga sudah memberikan pesan untuk tidak menjadikan pembelajaran online sebagai hambatan dan menekankan penumbuhan akhlak mulia atau karakter yang bernilai pancasila terhadap peserta didik.

“Meskipun online, jangan di jadikan sebagai hambatan untuk menimba ikmu dan di MPLS online ini saya tekankan untuk penumbuhan akhlak mulia atau karakter yang bernilai pancasila,”Ungkap saat ditemui di kantor 13/06/2021. (Mil/Red)

Comment

Artikel