BOJONEGORO, Wartaku.id – Kegiatan pembelajaran siswa siswi SMK-SMA di Kabupaten Bojonegoro sudah mulai berlakukan Pertemuan Tatap Muka (PTM) 100%.
Hal tersebut menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas pada situasi pandemi COVID-19 jenjang SMA/SMK dan SLB. Dalam penyesuaian SKB 4 Menteri terbaru, mulai Januari 2022, semua satuan pendidikan di level PPKM 1, 2 dan 3 diwajibkan menggelar PTM terbatas. Hal ini sesuai dengan kriteria persyaratan yang ditetapkan.
Sementara itu, di Jawa Timur sendiri ada sebanyak 24 daerah yang sudah bisa menggelar PTM 100% termasuk Kabupaten Bojonegoro. Selain karena sudah termasuk PPKM level 1, capaian vaksinasi di Bojonegoro juga sudah memenuhi syarat.
Salah satu sekolah yang sudah terapkan PTM 100 % adalah SMKN 1 Bojonegoro. Sebanyak 1.600 siswa sudah mengikuti kegiatan belajar PTM dengan jumlah sekitar 32 siswa per kelas, yang hari ini sudah memasuki minggu ke -2.
“Kita sudah mulai PTM dari minggu lalu, tentunya sesuai aturan yang ditentukan,” ungkap Warsiah selaku waka Kurikulum SMKN 1.
Sebelumnya kegiatan belajar mengajar silakukan secara daring dan PTM terbatas 50%, sementara kali ini PTM sudah bisa dilakukan 100% dengen tetap menerapkan portokol kesehatan (Prokes). Tempat mencuci tangan dan hand sanitizer juga disiapkan di berbagai sudut tempat.
“Sebelum masuk kita lakukan cek suhu, hand sanitizer kita siapkan juga di setiap kelas, tempat cuci tangan juga ada di beberapa titik, serta tidak lupa masker selalu kita ingatkan untuk di pakai dengan benar,” jelasnya.
Selain itu, murid dan guru juga sudah melakukan vaksinasi baik dosis pertama maupun ke dua. Meskipun sudah bisa melakukan PTM 100 % namun beberapa ketentuan juga diterapkan, salah satunya adalah penutupan kantin, sehingga murid di haruskan membawa bekal dari rumah.
“Untuk menghindari kerumunan jadi sementara kantin ditutup,” tuturnya.
Banyaknya permasalahan yang timbul selama pembelajaran daring, pihaknya berharap, kegiatan belajar mengajar bisa terus dilakukan secara PTM agar pihak sekolah lebih mudah untuk mengkontrol prilaku anak.
“Banyak sekali permasalahan yang sebelumnya tidak pernah terjadi tapi sejak belajar di rumah malah terjadi, dengan PTM kami senang anak-anak jg senang karena mereka jenuh dengan pembelajaran darring karena apa yang diperoleh itu tidak sesuai, terlebih SMK itu kan prektak tidak bisa sekedar teori,” tutupnya. (Mil/Red)



Comment