Pilkada Bukan Sekedar Simbol Demokrasi Melainkan Proses Demokratisasi

OPINI
YAZID MARI

Demokrasi simbolis sering berbeda antara judul dan isi. Pilkada hakekatnya Demokratisasi sesungguhnya “demokrasi substansial”, bukan sebagai kegiatan ritual tahunan yang tidak mampu menangkap kepentingan rakyat lokal Bojonegoro. Bahwa calon bupati/ wakil bupati yang sarat kepentingan pusat, seringkali tidak memberikan ruang bagi kepentingan dan kekuatan lokal/ daerah. Dan ini tak sekedar dialami oleh rakyat Bojonegoro, ternyata partai-partai tingkat kabupaten pun merasakan persoalan yang hampir sama, disalip dari tikungan oleh pimpinan pusat atau sebutan lain.

Maka semestinya janji-janji calon sesungguhnya merupakan apa yang dilihat disekelilingnya, bukan kata-kata manis dan gula-gula, namun sebagai penerjemahan isi otak dan perasaan warganya.

Maka tugas kita Sebagai pewaris Bojonegoro, pemilik seluruh kekayaan yang tersimpan di dalamnya agar berkolaborasi untuk menyukseskan pilkada, artinya bagaimana kita tidak memberikan cek kosong, atau memberikan keleluasaan calon pemimpin untuk menulis sendiri keinginannya, melainkan bagaimana pemimpin Bojonegoro nantinya mampu menangkap kepentingan mendasar rakyat Bojonegoro atas kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

Hal paling substansial bagi Bojonegoro kedepan adalah bagaimana rakyat Bojonegoro meningkat sumber daya manusianya. Artinya investasi jangka panjang pasca industri minyak tidak lain adalah manusia-manusia Bojonegoro yang berdaya, menulis cita-citanya, dan merealisasikan cita-citanya dalam bentuk kenyataan.

Maka menurut hemat saya pemilukada yang berwibawa adalah pemilu yang sejak awal proses, selain luber-jurdil juga harus melahirkan pemimpin yang kapabel, pemimpin yang teknokrat dan memiliki jejaring secara politik lokal, nasional, dan internasional, hingga membawa Bojonegoro berdaya, lebih baik dari kondisi sekarang. Tidak ubahnya pemimpin nasional, kepempinan daerah juga dibutuhkan “kementerian” susunan para komponen yang berkualitas dan profesionalitas di bidangnya masing-masing, sehingga mampu bergerak lebih cepat, trengginas dalam mengejar ketertinggalan dengan Kabupaten lain dengan APBD yang lebih besar dari apa yang dimiliki Bojonegoro hari ini.

Berkolaborasi juga dapat juga dimaknai bahwa pemimpin yang lahir dari proses luber dan jurdil adalah pemimpin yang mampu berkolaborasi, memiliki mata yang tajam dan telinga yang lebar dari yang dilihat dan didengarnya, serta sejauh mungkin menghindari “like and dislike” namun dalam memilih siapa yang memiliki keahlian di bidangnya sebagai apa menjadi penting dalam organisasi pemerintah daerah.

Moga harapan baru masyarakat Bojonegoro untuk merdeka sesungguhnya menjadi kenyataan, hingga pergantian pemimpin bukan sekedar berganti nama dan periode, namun bergantinya kemiskinan kepada keberdayaan, dan juga bukan dari sedikit perampokan kepada perampokan berjamaah.

Mari kita jadikan Bojonegoro tak sekedar ada tapi hidup!

Kopi malam Hayaru resto and cafe,16 Oktober 2024

Comment