BOJONEGORO, Wartaku.id – Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok tani (Poktan) Widodo dengan Kelompok tani Karya Makumur, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur melakukan musyawarah terkait permasalahan banjir yang merendam padinya, rencananya hasil musyawarah tersebut akan dikirim hari ini. Senin, (14/11/2022)
Hasil Musyawarah yang dilakukan di atas banjir pada Minggu, (13/11/2022) rencananya akan dikirim oleh petani kepada pemerintah terkait hari ini senin, (14/11/2022). Hal tersebut merupakan bentuk protes petani akibat kurangnya perhatian pemerintah terhadap banjir yang dialami petani tersebut yang berlangsung setiap tahunnya di saat musim penghujan.
“Hasil musyawarah ini akan kita kita kirim hari Senin tanggal 14 November 2022, semoga segera memperoleh tanggapan dari dinas atau instansi terkait,” Ungkap Khamim seorang anggota Poktan Widodo pada Minggu, (13/11/2022)
Hasil musyawarah tersebut diantara meminta solusi dari pemerintah terkait banjir di musim penghujan yang selalu merendam tanaman petani hingga terakhir pada Jumat tanggal 11 November hingga Minggu tanggal 13 November 2022, banjir tak kunjung surut.
Menurutnya, banjir di Sukorejo berasal dari wilayah Desa Kunci, Kecamatan Dander. Sehingga, di sana air banjir bisa dialirkan ke barat atau ke timur sehingga mengurangi aliran dari dari wilayah Kunci dan sekitarnya itu.
“Jika tak ada action dari pemerintah maka petani akan merubah pola tanam. Kalau musim penghujan tidak tanam padi, tapi tanamnya di saat musim kemarau dengan sistem mengambil air bawah tanah atau sistem pompanisasi dengan memanfaatkan air bengawan,” kata Khamim menandaskan.
H Sufyan Ketua Poktan Widodo, meminta agar Kepala desa Sukorejo, Camat Bojonegoro, Dinas PU SDA Bojonegoro, Balai Besar Bengawan Solo (BBWS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Bupati Bojonegoro dan Gubernur Jawa timur, bisa membantu mencarikan solusi bagaimana agar wilayahnya tak lagi mengalami banjir hingga membuat petani selalu merugi.
“Kami butuh kerja nyata pemerintah dalam mengatasi banjir yang setiap tahun merendam tanaman padi di wilayah Desa Sukorejo ini,” tegasnya.
Lanjut Hektar Sufyan, ada 36 hektar milik petani Poktan Widodo dan ada 25 heltar lahan milik Poktan Karya Makmur yang tergenang banjir. Belum lagi lahan milik warga Kelurahan Kepatihan, Kelurahan Kadipaten dan Desa Kalinyar yg berada di wilayah Kecamatan Kapas yang berdampak lebih dari 100 hektar.
“Jika hendak dihitung kerugianya di setiap hektar petani bisa merugi hingga 14,5 juta. Berarti kerugian petani bisa mencapai angka Rp 884,5 jt, ” Imbuhnya.
Sedangkan Ketua kelompok tani Karya Makmur Sucipto mengatakan, banjir terjadi akibat kecilnya jembatan di bawah rel kereta api, turut Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, yang sangat sempit.
“Akibat irigasi yang kurang lebar dan jembatan yang sempit membuat air tak lancar menuju ke sungai yang selanjutnya masuk ke Bengawan solo yang berada di Desa Semanding, Kecamatan Kota,” kata Sucipto menegaskan. (Mil/Red)


Comment