BOJONEGORO, Wartaku.id – Menjadi budaya peninggalan nenek moyang, batik tulis memang kental akan seni dengan teknik pembuatanya yang terkenal tidak mudah, hal tersebut menjadi alasan terbatasnya pengerajin batik di Indonesia terlebih di kalangan kaum pemuda. Namun, ditangan salah satu pemuda asal Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro batik tulis kembali melestari.
Ketertarikanya dalam membatik tersebut berawal saat mendapat pelajaran keterampilan di bagku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), Seto Utoro mulai mengenal batik hingga kini menjadi profesi yang ditekuni.
“Dulu setelah kenal batik itu saya lanjutkan ngabdi ikut senior, Alhamdulillah sekarang sudah bisa mendirikan sendiri, ” Terangnya.
Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, Seto Utoro menjadi pemuda inspiratif, selain karena tidak banyak generasi milenial yang berminat membatik, dapat diartikan Seto menjadi pemuda yang berperan melestarikan budaya Indonesia yang hampir redup tersebut.
Dikutip dari detikFinance, 8 April 2021 lalu, Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mencatat, di Indonesia terdapat 151.656 pengrajin batik, tapi kini tinggal 37.914 pengrajin yang masih aktif.
“Suka batik karena asik dan menemukan ke sreg an disitu, dan kalau malam saya suka coret-coret, ” Jawabnya saat ditanya alasan membatik.
Karya batik tulis milik Seto terkenal dengan motif liuk-liuk, seperti tumbuhan yang menggambarkan bunga, daun, ataupun akar sehingga karyanya tampak lebih hidup dan modern. Warna yang dipilih juga terlihat cerah yang menimbulkan semangat bagi yang melihatnya.
“Sebenarnya saya sendiri bingung kalau ditanya khasnya apa, tapi batik yang saya buat lebih ke bentuk daun meliuk-liuk seperti ukir kayu gaya mataram,” Tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa selalu menerima permintaan custom dari para customer yang menginginkan motif berbeda. Motif yang pernah dibuatnya sudah tidak terhitung lagi karena setiap design terdapat inovasi yang berbeda. Namun, Seto menuturkan ada beberapa motif miliknya di antaranya adalah motif bunga rosela, jati, thengul praja mukti, selain itu tidak lama Ia juga mengangkat kesenian sandur.
“Harapanku mungkin lantaran motif itu bisa menambah kekhasan Bojonegoro, dan mengangkat kesenian sandur, ” Ucapnya.
Munculnya, lanjut Seto ide pembuatan motif tersebut berawal saat melihat seni pertunjukan Bojonegoro, mau angkat tayub, tapi di Tuban sudah ada dengan gaya yang hampir sama, terus saya angkat sandur, walaupun itu ada di Jatim tapi sandur Bojonegoro berbeda.
Bahkan hingga saat ini, Pemuda lulusan Intitut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan kriya tersebut mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan menjual karyanya ke berbagai penjuru Indonesia.
“Sekarang sudah punya tenaga kerja dari lingkungan sekitar (pemberdayaan) dan alhamdulillah banyak MOU dari galeri dan instansi untuk seragam dan pelatihan juga, ” Tutupnya. (Mil/Red)



Comment